Biografi K H. MISBAHUDDIN ACHMAD

Biografi KH. Misbahuidn Ahmad. KH Misbahudin Ahmad dilahirkan pada tahun 1942, dari pasangan suami istri yaitu Ahmad Sarengat dan Suripah, cucu dari Bapak Ma
Insan dan Ibu Musirah. Beliau merupakan anak sulung dari 7 orang bersaudara. Diantaranya yaitu KH. Misbahudin Ahmad, Suti’ah, Imam Asy’ari, Abdul Qodir, Winarto, Hj. Rini Supatmi, dan Khoirul Anam. Beliau biasa dipanggil Pak Mujito oleh saudara-saudaranya.

Beberapa saudara beliau, sebagian masih hidup. Diantaranya yaitu Abdul Qodir, Hj. Rini Supatmi, dan Khoirul Anam. Dan dari sekian saudara, Beliau lebih dekat dengan saudara bungsunya. Walaupun terpaut cukup jauh antara sulung dengan bungsu. Mereka sangat dekat karena mereka memiliki karakter yang hampir sama, kecocokan niat dan tujuan yang sama. Yaitu Birul Walidain-mensyiarkan islam Bi Ijtihad Fii Sabilillah.

Pada tahun 1978 Pak Khoirul Anam pernah diajak Beliau ketempat tinggalnya di daerah Sembayat, Gresik. Selama kurang lebih 5 tahun, Pak Khoirul Anam dapat tugas untuk menjadi supir pengantar barang ditoko kayu dan bangunan lengkap milik Beliau. Dan pada tahun ini juga, Pak Khoirul Anam ngemong dan mengasuh putra Beliau yang tengah ditinggal pergi menunaikan ibadah haji ke Makkah oleh Beliau.

Suka duka telah dilewati Pak Khoirul Anam bersama Beliau. Ketika saat peringatan 7 hari wafatnya Ayah dari Hj. Shobiah, mereka mengalami kecelakaan saat mengendarai mobil hingga mobil terjungkal sampai tiga kali. Akan tetapi, mobil hanya tergores sedilit dan semua selamat termasuk Beliau dan Pak Khoirul Anam. Beliau juga hobi dengan berkendara motor, terbukti dengan seringnya pulang pergi dari Blitar ke Gresik, begitu pun sebaliknya. Beliau kecelakaan terserempet mobil sejauh 100 meter, tulang selangka beliau patah. Saudara bungsu-lah yang membawanya ke Rumah Sakit Petro Kimia, Gresik.

Saat makanan yang dimakan sisa, Beliau selalu ingat saudara bungsunya yang selalu dan kerap sekali mereka bersama. Baik suka maupun duka. Jadi hati Pak Khoirul Anam dan beliau sangat dekat. Tapi tak hanya saudara bungsu. Beliau juga dekat dengan saudara perempuannya yang bernama Ibu Hj. Rini Supatmi. tempat tinggal Ibu Rini cukup jauh dari Ndalem Beliau, yaitu di daerah Kandal, Sumberejo, Kediri. Ketika beliau sakit, Bu Rini sangat tlaten mengurus dan menjaga makanan beliau. Setiap 2-3 hari sekali Bu Rini selalu datang ke Ndalem Beliau hanya untuk membuat masakan kesukaan beliau selama sakit. Hal ini dilakoni Bu Rini kurang lebih 4 tahun. Beliau sangat menyukai atau cocok dengan masakan Ibu Rini karena sama persis seperti masakan Ibu Beliau. yaitu Ibu Suripah. dan terkadang jika tidak dimasakkan oleh Ibu Rini sendiri. Kiai Misbah tidak selera makan, meskipun masakan itu dari Ibu Hj. Shobiah, sebagai Istrinya sendiri.

Di mata saudara-saudara, Beliau adalah sosok orang yang memiliki watak tegas, ulet, disiplin, dan sangat menyayangi keluarga serta saudara-saudaranya. Usai berdirinya Pondok Pesantren Mamba’us Sholihin 2 Blitar, Beliau pernah berpesan kepada saudara-saudaranya bahwa Pondok ini harus bersatu dan merangkul masyarakat sekitar. Hingga saat ini, kedekatan antar saudara masih terjaga karena selalu bersilaturahim satu sama lain, walau terpaut dengan jaraknya yang jauh.

Abah itu adalah sosok orang yang disiplin, keras serta sangat tawadhu’ kepada gurunya. Sifat itulah yang dilakukan Abah dalam mendidik santri serta putra-putrinya. Kedisiplinan pun harus dipraktikkan dalam keadaan apapun.

Pelajaran yang sempat Saya dapat dari Abah adalah kedisiplinan yang tinggi. Semua yang dikerjakan harus on time. Serta akhlaq yang dijadikan landasan dalam bersosialisasi dengan masyarakat. Dulu, saat Abah masih mengajar, saat saya masih kelas 2 SMP. Abah menguji mental santri dikelas kami, Abah mengklaim dengan dawuh “Suatu saat nanti, santri yang bisa bertahan mondok selama 6 tahun keatas, itulah yang akan jadi santri sebenarnya.”

Dorongan untuk tetap mondok tidak hanya hadir dari Abah, tatapi dari Gus Zainul Fajri dan kerabat beliau sendiri. Layaknya buah nangka yang akan matang. Biarkan ia matang, hingga masyarakat di sekitarnya mencium bau harum nangka yang matang itu.

Tak hanya itu, saya juga diajari mencari orang cerdas. Meskipun tidak pintar tapi tanggap, maka ia akan jadi orang cerdas.

Pelajaran yang hingga masih dan akan selalu Saya praktikkan adalah akhlaq tawadhu’ seperti tawasul pada guru, serta mengamalkan apa yang telah di dawuhkan oleh guru. Dan yang saya rasakan kini adalah dengan barokah kyai, saya menjadi tertata dengan sendirinya.

Tugas saya bila diajak pergi oleh Abah adalah sebagai penerjemah isyarat Abah, menjadi navigator jika Abah menunjuk ke suatu tempat dan bertanya kepada Abah sendiri, kemaa beliau ingin pergi. Dan ini merupakan amanat dari Abah sendiri.

Mendengar kabar bahwa Abah telah tiada, secara otomatis saya langsung shock, dan teringat saat jari tengah tangan kiri saya termakan pintu hingga membengkak. Perasaan sedih juga menyelimuti, karena saya tak mendapati detik-detik terakhir Abah. karena ada kewajiban ngajar di diniyah. Seusai sholat, saya langsung menuju rumah sakit dengan kecepatan lebih dari biasanya dan menerobos beberapa lampu merah.

Sampai dirumah sakit, Saya langsung terisak mendapati jenazah Abah terbujur kaku tanpa nyawa. Saya terisak di pangkuan Ibu Nyai. Saya sudah menganggap Abah dan Ibu Nyai sebagai orang tua sendiri. Pesan Ibu Nyai saat itu adalah “Mulai dari rumah sakit hingga Abah dimakamkan, kamu harus selalu di samping Ibu.”

Hingga saat memandikan dan mengkafani jenazah Abah, hanya saya dan mas Isna yang boleh masuk dari kalangan santri. Itu karena Saya dishodakohkan ke pondok, dan mas Isna sendiri di waqofkan ke pondok.

Sebagai bukti ta’dhim Saya ke Abah, meski Abah telah tiada adalah:

  1. Menjaga nama baik pondok pesantren dan jadi ukhwah buat santri.
  2. Sebagai penyalur lidah keluarga ndalem.
  3. Mengembangkan pondok dan meningkatkan kualitas santri.
  4. Ikut mengayomi kehidupan ndalem, santri dan masyarakat sekitar.

Sebelum 40 hari abah meninggal, Saya diimpikan hingga 4 kali. Dalam mimpi tersebut tergambar bahwa Abah hidup kembali. Serta makam beliau terbuka. Ibu Nyai juga diimpikan sebanyak 2 kali. Sementara Abah Mad bermimpi berbincang-bincang dengan Abah, kata abah kapada Abah Mad “ Bah, njenengan niku Abah kulo, Kyai kulo. sak wanci-wanci njenengan bidal ngilen kulo tumut nggeh” (Bah, kamu itu Ayah saya, Kyai saya. Jadi, jika kamu pergi ke Makkah saya ikut ya)

Hubungan Abah dan Abah Mad (Abah Abdul Ghofur) bertemu pada nasab keduanya yaitu Mbah Singo. Abah Mad sempat bermimpi di datangi Mbah Singo dan berpesan, bahwa suatu saat nanti, akan ada sebuah pondok besar di Sumber bagian timur, maka bentuklah! kata Mbah Singo pada Abah Mad dalam mimpinya. Sebagian warga pun ada yang melihat garis matahari dan bulan jatuh di depan ndalem utara dibagian utara musholla putri. Kejadian tersebut sekitar tahun 2006.

Begitulah cuplikan dari hasil wawancara yang kami lakukan pada hari Ahad malam Senin, 14 Februari 2016. Dan di akhir wawancara “Meskipun Abah telah tiada, ruhaniyah Abah tetap menemani kita.” begitulah tegas Mas Firdan sebagai narasumber kala itu.

Ketika KH Misbahudin Ahmad sakit

Kh.Misbahudin Ahmad, tahun 2006 bulan Mei. Beliau mulai sakit, menurut ahli medis beliau mengidap penyakit yang disebabkan penyumbatan pembuluh urat saraf otak No. 7, 8 dan radang tenggorokan yang menyebabkan pita suara beliau pecah. Sudah dibawa ke THT spesialis saraf, Gresik. Beliau juga sudah diobati dengan cara alternatif dan herbal. Tapi tidak ada perubahan, dan  mungkin sudah itu takdir Beliau.

Secara religi itu memang untuk ujian Beliau, atau disebut “Riadhoh” (Tirakat). menurut para Ulama’, sakit orang ‘alim di bagi menjadi 2, yaitu:

  1. Musibah untuk Lita’dim (untuk menyiksa umat di dunia)
  2. Untuk mengangkat derajatnya di akhirat.

Menurut para alim Ulama’ “Setiap penyakit menghapus sekian ribu dosa.”

Sekitar tahun 2013 setelah Beliau umroh, Beliau kambuh di karenakan jarang makan dan minum sehingga beliau mengalami sariawan. Jadi terpaksa beliau di bawa ke rumah sakit dan memakai alat bantu indoskop di Syaiful Anwar, Syuhada’ Haji.

Setelah keadaan Beliau mulai membaik Beliau mulai bercocok tanam kembali seperti bercocok tanam bunga-bunga, buah-buahan dan tanaman hias lainnya. Jika cocok tanam Beliau sudah panen di berikan ke anak, dan cucu beliau. Karena beliau suka memberi hasil kerja keras Beliau sendiri. Wajar jika beliau sering kambuh, karena Beliau sosok yang suka bekerja keras dan Beliau suka dengan kebersihan. Beliau sering membersihkan pondok.

Terahir beliau kambuh tahun 2015 dari awal bulan Desember dikarenakan Beliau tidak mau makan, tidak mau minum dan tidak mau di bawa ke Rumah Sakit. Tetapi Beliau di rawat di kamarnya dengan Pak Asy`har ( dokter klinik pondok ) Beliau diinfus , tapi karena beliau bersi keras untuk tidak mau dirawat dengan infus dan dilepasnya sendiri karena Beliau tetap ingin merawat tanaman-tanamannya dan berkeliling untuk menjaga kebersihan pondok. Biasanya di dampingi beberapa santri atau ustadz-ustadzah.

Tanggal 5 Desember beliau di bawa ke RS Syuhada`Haji dengan kondisi beliau yang drop karena jarang makan, dan jarang minum. tansi Beliau turun. Awalnya Beliau tidak mau diinfus kemudian di bujuk dengan anak-anak Beliau. Baliau pun mau untuk diinfus tapi setalah beberapa menit infusnya dilepas lagi karena beliau ingin buang air kecil. Kemudian di pasang lagi. Setelah keadaan Beliau membaik, Beliau dibawa pulang pada tanggal 8 Desember hari Selasa. Hari kamis sore keadaan beliau drop kembali karena beliau kelelahan dan faktor yang sama tidak mau makan, tidak mau minum dan tensi darah beliau drop. Sehingga fisik Beliau tidak kuat menahan keseimbangan jadi untuk menuju mobil Beliau di gendong oleh Pak Zuber menuju ke RS Syuhada`Haji dan masuk ke ruang UGD. 1 hari 1 malam di Syuhada`Haji kemudian dirujuk ke RS. Mardi Waluyo kota Blitar, masuk ke ruang ICU setelah sholat maghrib Beliau di pindah ke ruang VVIP, letaknya di lantai 2 khusus 1 pasien dilengkapi ruang tamu sendiri dan kamar mandi sendiri. Tepatnya di Pafiliun no 3.

Jam 10 malam beliau mencari anak-anaknya dan tak lupa dengan istri beliau. Beliau sering meminta ke kamar mandi untuk berwudhu, karena Beliau sangat memperhatikan wudhu beliau. pukul 15.30 sholat ashar fisik Beliau sudah tidak kuat lagi kemudian Beliau tidur. Sekitar adzan maghrib terakhir selesai dengan dzikir. Beliau menghembuskan nafas terakhir ketika لااله الاالله di tengah-tengah keluarga beliau berkumpul.

Beliau menutup usia pada umur 73 tahun tepat tanggal 13 Desember 2015 hari Ahad masuk tanggal 20 Rabi`ul Awal. Keluarga sangat tidak pecaya ditinggalkan sosok figur motifator seperti Beliau tapi semua sadar mungkin ini takdir yang telah Allah Swt berikan. Beliau meninggal dengan memakaai baju putih.

Wafatnya KH Misbahudin Ahmad

Wafatnya K.H Misbahudin Ahmad bagaikan guncangan dahsyat bagi Pondok Mamba’us Sholihin. Duka dan air mata tidak lagi dapat terbendung. Beliau yang akrab dipanggil Abah oleh para santri dan keluarga besar Pondok tersebut. Sebelumnya Beliau dirawat di RS. Syaiful Anwar karena sakit penyumbatan pembuluh syaraf otak. Namun, takdir Allah lebih berkuasa, Beliau kembali diambil ke hadirat Allah pada tanggal 13 Desember 2015, pada usia ke-73 tahun.

Sebelumnya, pada hari Sabtu (12/2), Abah sempat dibawa ke RS. Syuhada’ Haji di Ruang IGD karena penyakit Beliau kambuh. Beliau telah mengidap penyakit tersebut sejak tahun 2006. Setelah itu Beliau dirujuk dan dibawa ke RS. Mardi Waluyo. Karena fasilitas yang kurang memadai dan pihak rumah sakit tidak dapat menangani lagi, Beliau dirujuk dan dibawa ke RS. Syaiful Anwar, Malang, di Ruang ICU pada waktu Maghrib. Pada pukul 22.00 WIB beliau di pindah ke Ruang VIP di Paviliun 3.

Pukul 01.00 dini hari Abah mengabsen dan mengumpulkan semua anak dan keluarga sampai pukul 02.30. Kemudian Beliau sare (jawa) hanya setengah jam. Lalu Beliau meminta sholat sampai setelah sholat subuh. Paginya Beliau masih sering meminta ke kamar mandi untuk berwudhu. Kondisi fisik Abah mulai menlemah sekitar pukul 15.00. Namun, sebelum sholat ashar Beliau masih meminta ke kamar mandi untuk berwudhu dan bersuci. Jadi di detik-detik terakhir Abah, Beliau dalam keadaan suci dan bersih.

Maghribnya Beliau ditalqin sholat dan wirid oleh Agus Moh. Al-Amin. beberapa saat kemudian, Abah menghembuskan nafas yang terakhir kalinya. Saat itu Beliau menggunakan pakaian putih dan hanya didampingi oleh Agus Moh. Al-Amin dan Neng Miwing Retnaning Rahayu, karena yang lainnya sedang sholat berjama’ah. Beliau wafat pada hari Ahad masuk hari Senin tanggal 2 Maulid 1437 “Perasaanya Saya masih tidak percaya masih tidak percaya dan sebenarnya belum siap ditinggal sosok vigur motifator dan pendidik.” ungkap Gus Amin di kediamannya (ndalem) saat ditemui Crew Jurnalistik.

Setelah mengurus administrasi, jenazah Abah dipulangkan, dan sampai di Pondok pada pukul 20.00 wib. Jenazah Abah langsung dimandikan dan dikafani oleh anak dhurriyah Beliau, antara lain : Agus Moh. Ali Wafa, Agus Fauzil Anam, Neng Nur Khasanah dan Kyai Syafi’ di Ndalemnya Gus Amin. Kain ihram saat Abah haji dan pakaian-pakaian khusus saat Abah ibadah dipakaikan saat mengkafani jenazah Abah.

Kemudian, jenazah Abah disholatkan di musholla putri. Yang mensholatkan adalah dari pihak keluarga, para ustadz-ustadzah, dan santri putri. Pada saat itu yang mengimami adalah Kyai Syafi’. Setelah dari musholla putri, jenazah Abah di pindah ke musholla putra.

Pada keesokan harinya, jenazah Abah dimakamkan. tepat pada pukul 10.00, jenazah di ikrarkan dan langsung diberamgkatkan, dari musholla putra barat ke lokasi pemakaman. Lokasi pemakaman berada di timur ruang Auditorium. Yang mengebumikan adalah adik Abah, Gus Zainul Fajeri, dan Gus Fauzil Anam. Untuk muadzinnya dari pihak Santri.

Lokasi pemakaman dipilih di Timur Auditorium. Karena Abah telah mewasiatkan tanah tersebut. Abah membeli tanah waqof tersebut tidak untuk Pondok tetapi telah diniati untuk maqom keluarga besar Pondok. Pemakaman Abah dihadiri oleh : Bpk. Bupati dan Wakil Bupati, Kepala Desa Sumber dan Sumberjo. Pondok Mamba’us Sholihin 2 berdiri di antara 2 desa yaitu desa Sumber dan pelataran ke Sumberjo, namun induknya berada di desa Sumber yaitu di Mbale yang juga tempat lahirnya Abah.

Ada firasat sebelum Abah wafat, namun firasat tersebut tidak terasa sebelumnya. Dan setelah Abah wafat firasat tersebut baru terfahami. Dari segi pembangunan, satu bulan sebelumnya, Gus Amin memfokuskan untuk membersihkan lokasi maqam. Gus Amin juga membeli sebuah kalender dari Ampel yang berisi foto-foto maqam Sunan Ampel dan ditaruh di kamar Abah.

Firasat khusus yang Ibuk rasakan adalah, 1 minggu sebelumnya, Ibuk bermimpi bahwa anak-anak harus konsentrasi mengurusi Abah. Tak hanya itu, Abah sering menunjukkan tempat uang pada Ibuk, maksudnya agar Ibuk tahu dimana Abah menyimpan uang, dan uang tersebut digunakan oleh Ibuk setelah ditinggal Abah. Pada hari Jum’at (11/12) Gus Amin sangat ingin terus memuaskan Abah,  sampai-sampai Beliau ke Kediri untuk membeli filter udara untuk Abah.

40 hari sebelum Abah wafat Beliau sering mengajak untuk ziarah ke makam Gus Miek dan Syekh Basyaruddin di maqam Auliya’. Sebelum Abah wafat, Beliau masih sempat dan sering membersihkan Pondok, menanam tanaman dan ikut menertibkan pondok, meski Beliau masih dalam keadaan sakit.

Walau Abah tidak dapat bicara, tanggung jawab Beliau untuk Istri tidak pernah hilang. Seperti memberikan pengarahan dan pencerahan bagi Ibuk. Beliau setiap pagi membangunkan Ibuk pada pukul 02.30 untuk sholat tahajud, sampai-sampai Ibuk pernah pernah berkata “Pukul setengah tiga seperti saat dibangunkan oleh Abah” selain itu Abah selalu mendengarkan kajian tasawuf kitab Al-Hikam oleh KH. Imron Jamil dari radio Mayangkara setiap pagi, sebagai ganti Abah yang mengajar Ibuk.

Gus Amin juga masih sering diingatkan saat dalam sholat oleh Abah. Beliau juga yang sering mengajak Gus Amin untuk berangkat sholat Jum’at, padahal saat itu Gus Amin baru saja istirahat.

Abah menunjukkan sosok yang disiplin, rapi dan indah. Misal saja, Abah senang menanam dan menyiram tumbuhan yang ada didepan Ndalem, Beliau juga paling tidak suka jika ada sampah yang berserakan, ember di depan kamar dan lantai kotor. Saat waktu tidur malam, Beliau harus marah dahulu agar semua santri tidur karena Beliau sangat disiplin.

Selain sosok yang disiplin, Beliau juga sosok yang dermawan. Beliau sangat senang memberi kepada orang lain hasil panenan tanaman Beliau. meski tidak dapat memakan hasil tanaman Beliau, Abah lebih senang menanam dan hasilnya dibagikan pada santri, anak beliau dan TU Pondok seperti OB.

Beliau juga sosok pendidik. Beliau sangat memperhatikan pendidikan anaknya. Ketika Gus Amin masih dalam masa hafalan Al-Fiyah beliau pernah bertanya pada Abah. saat itu hari raya Idul Adha “ Bah, tidak qurban ta? ” tapi jawaban Abah adalah

ليس لي دهم ولي وطر

Yang merupakan salah satu nadham Al-Fiyah. Selain itu Beliau juga sosok diplomatik. Abah sering menguji putra-putranya dengan beberapa masalah agar putra-putranya diskusi. Suatu hari Abah kedatangan tamu. Abah menyuruh Gus Amin untuk menemui tamu tersebut. Sang tamu bertanya banyak tentang agama, dan syukurnya Gus Amin dapat menjawabnya. Abah juga sering menyuruh putra-putranya membadali Beliau di Masjid Isti’mal.

Abah adalah sosok pekerja keras. Beliau mengajarkan kepada putra-putranya makan dari hasil kerja sendiri. Beliau lebih puas jika makan dari hasil keringat sendiri. Beliau adalah sosok yang tidak pernah tidur malam. Hampir setiap malam sekitar pikul 01.00 sampai tahajud Beliau keliling Pondok. Di detik-detik terakhir Beliau sering keliling Pondok, terkadang Beliau sendiri terkadang juga di dampingi oleh salah satu Ustazd. Tanggung jawabnya terhadap Pondok begitu besar sekali karena Beliau diamanati wali santri untuk mendirikan Pondok.

Setiap malam Abah memanggil 3 santri untuk mijiti Ibuk. begitulah setiap malam sebelum Abah wafat, maksudnya adalah agar Ibuk tidak kesepian dan sendirian saat ditinggal Abah nantinya.

Wasiat khusus sering di terima oleh Agus Moh. Ali Wafa. Sebelum Abah sakit, Gus Wafa sering di pesani “Ati-ati Fa, zaman wis akhir” setiap Gus Wafa pamit akan kembali ke Gresik. Selain itu Beliau berwasiat agar seluruh Santri dan Keluarga besar Pondok terus menjaga Ukhwah Islamiyah, membaca aurod–aurod yang diistiqomahkan Abah seperti membaca sholawat Nariyah 11x setiap setelah sholat dan istiqomah membaca wirid tahajud yang ijazahi oleh KH Abdullah Faqih dan KH Masbuhin Faqih.

Abah sangat bangga dengan Pondok Pesantren Mamba’us Sholihin. Beliau juga puas terhadap Pondok Mamba’us Sholihin 2. Terlihat dari Beliau yang sangat antusias saat pembangunan paving di depan Ndalem, dengan sedikit mambantu para pekerja yang sedang lembur. Tidak hanya itu, saat pembangunan lantai 4 pondok putri, Beliau sering menunjukkannya pada santri dengan menuding menggunakan tongkatnya dengan wajah yang sumringah. Waktu pembangunan atap di depan UKP dan kantin, Beliau juga sering melakukan hal tersebut dengan senyum yang terus mengembang.

Dahulu, Dhawuhnya KH Abdul Ghofur atau biasa dipanggil Gus Mad, Abah pernah menafsirkan bahwa Pondok Mamba’us Sholihin 2 akan menjadi Pondok yang besar, sholatnya saja sampai di lapangan.

Setelah Abah wafat, beberapa santri pernah diimpikan oleh Abah. “Abah memarahi saya, karena tidak mematuhi perintahnya.” tutur salah seorang santri yang diimpikan oleh Abah. Gus Amin pun juga pernah diimpikan oleh Abah. Kata beliau Abah tersenyum di Mbale.

Motto Abah saat dhawuh ketika Beliau masih sehat adalah

Masa depanmu adalah saat ini, kalau sekarang kamu tidak bersungguh-sungguh  dalam belajar maka masa depanmu juga tidak akan baik.

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *